Semarang, Pusat Aswaja Universitas Wahid Hasyim menyelenggarakan kegiatan Capacity Building dan Buka Bersama bagi Pegiat Aswaja Muda Unwahas yang berlangsung di Laboratorium Aswaja Gedung E3.03 Kampus 1 Universitas Wahid Hasyim Semarang dengan Tema “Great Generation, Aswaja Vision: Excellence Rooted in Tradition”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid pada Kamis, 5 Maret 2026..

Acara diawali dengan pembukaan dan pembacaan tahlil yang di pimpin oleh saudara Rifa(Pegiat Aswaja) dengan khidmat. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Sahrul Ramadhan (Koordinator Aswaja Muda) serta Ketua Aswaja Centre Bapak Imam Khoirul Ulumuddin yang menekankan pentingnya penguatan kapasitas kader muda Aswaja agar mampu menjaga tradisi sekaligus berprestasi di tengah perkembangan zaman.
Memasuki sesi inti, kegiatan capacity building diisi oleh Bapak Ali Romdhoni, dosen Universitas Wahid Hasyim yang juga aktif dalam kajian keislaman dan sejarah Islam Nusantara. Dalam pemaparannya, beliau mengajak peserta untuk memahami dinamika dalam sejarah Islam secara lebih hati-hati. Menurutnya, jika tidak bijak dalam melihat dinamika tersebut, seseorang bisa saja terjebak pada sikap yang justru menjauhkan dari nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.
Beliau mencontohkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam, seperti perbedaan pandangan antara Ali bin Abi Talib dan Muawiyah I, tidak dapat disederhanakan dengan memilih salah satu pihak secara mutlak. Dalam pandangan ulama Ahlussunnah, persoalan tersebut tidak dilihat hanya dari satu sudut pandang, melainkan dari berbagai perspektif agar tetap menjaga keadilan dalam menilai sejarah para tokoh Islam.
Diskusi kemudian berlanjut pada isu kontemporer, salah satunya konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa Iran memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penganut Syiah, bahkan terdapat pandangan yang menyatakan laisa minna terhadap sebagian praktiknya. Namun demikian, beliau juga mengingatkan bahwa Allah dapat saja menitipkan banyak keutamaan (faḍl) kepada siapa pun, termasuk kepada suatu bangsa atau kelompok.
Melalui pembahasan tersebut, beliau menekankan bahwa sikap Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bersikap proporsional dan tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu kelompok atau peristiwa. Bagi warga Aswaja, tujuan utama bukan hanya sekadar selamat dalam konteks politik atau keberpihakan duniawi, tetapi juga menjaga sikap agar tetap selamat di hadapan Nabi Muhammad SAW.
Dalam kesempatan yang sama, Bapak Imam Khoirul Ulumuddin juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat berorganisasi. Menurutnya, semangat dalam berorganisasi tidak selalu stabil, ia menyamakan bahwa semangat dan iman itu memiliki persamaan dalam hal naik turunnya, kadang یزید (bertambah) dan kadang ینقص (berkurang) Oleh karena itu, para pegiat Aswaja Muda diharapkan tetap saling menguatkan dan menjaga semangat untuk terus bergerak.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif hingga menjelang waktu magrib. Acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat tali silaturahmi.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan Aswaja Muda dapat terus menjadi ruang belajar, berdiskusi, serta mengembangkan kapasitas generasi muda dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah dinamika zaman.
Kontributor: Ainil_Aswaja Muda